• Photo :
        • Ilustrasi berbicara,
        Ilustrasi berbicara

      Sahijab Update – Problematika kehidupan kerap terjadi berawal dari ucapan sembrono seseorang yang bisa menyinggung seseorang. Luka yang disebabkan ucapan ini justru lebih berbahaya dari sayatan pedang.

      Rais 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar menyampaikan betapa pentingnya manusia menjaga mulutnya dari perkataan buruk yang menyebabkan pertikaian, permusuhan, dan lain sebagainya. 

      “Ucapan lisan (mulut) itu jauh lebih tajam daripada pedang. Kalau lisan melukai orang, lebih tajam, lebih mendalam. Luka sebab pedang, sebab senjata mungkin satu bulan, dua bulan, tiga bulan sembuh, tapi luka karena lisan, lukanya hati karena ucapan, bisa setahun bisa dua tahun enggak sembuh-sembuh,” kata Kiai Miftachul Akhyar dikutip dari NU Online, Selasa 17 Januari 2023.

      Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah, Surabaya itu kemudian mengutip sebuah pepatah Bahasa Arab yang artinya: “Keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan.”

      Oleh sebab itu, Kiai Miftah sapaan akrabnya, mengingatkan umat Islam agar jangan sembarangan saat berbicara.

      “Harus dijaga. Ada istilah mulutmu adalah harimaumu. Perkataan bisa menjadi senjata tajam yang dapat menyakiti orang lain jika tidak dijaga,” terang Kiai Miftah. 

      Menurut Kiai Miftah, sesama anggota tubuh saling memengaruhi manusia untuk mendorong melakukan perbuatan. Baik itu sikap tercela maupun terpuji. Kata dia, mulutlah yang akan menjadi kunci atas kehendak anggota tubuh tersebut. Melakukan atau sebaliknya.

      “Setiap hari kita ini tidak merasa bahwa lisan kita 'didemo'. Siapa yang 'demo'? Ya anggota tubuh kita sendiri selain lisan,” pungkasnya.

      “Maksudnya, lisan kita ini didemo oleh anggota tubuh yang lain, karena lisan ini yang pegang bendera, lisan ini yang menjadi penentu. Baik dan tidaknya anggota tubuh kita apa kata lisan,” imbuhnya.

      Mulut tidak selalu mengatakan apa yang sesungguhnya terjadi. Bisa jadi ucapannya itu tidak selaras dengan fakta yang sebenarnya. 

      Karena itu, mulut tidak bisa menjadi tolok ukur atau alat kepercayaan satu-satunya untuk bisa mengungkap sebuah fakta. 

      “Makanya nanti di akhirat, yang nyerocos itu bukan mulut, mulut sudah dikunci, lalu anggota lain yang berbicara,” pungkas Kiai Miftah.

      Berita Terkait :
  • Trending

    Obrolan

Jangan Lewatkan