• Photo :
        • Rasmus Paludan,
        Rasmus Paludan

      Sahijab Update – Al-Azhar, dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan, menyerukan para Muslim untuk memboikot produk Belanda dan Swedia. 

      Dalam pernyatannya, melansir DawnAl Azhar meminta negara-negara Islam untuk mengambil sikap yang kuat dan bersatu dalam mendukung Al-Quran. Pernyataan itu menuntut "tanggapan yang tepat" dari kedua pemerintah atas "kejahatan tercela dan biadab" atas nama kebebasan berekspresi.

      Hal ini berkaitan dengan politisi sayap kanan Swedia-Denmark, Rasmus Paludan yang pada hari Sabtu pekan lalu membakar salinan kitab suci umat Islam Al Quran di depan kedutaan Turki di Stockholm, meningkatkan ketegangan ketika Swedia mengadili Ankara atas tawarannya untuk bergabung dengan NATO. 

      Tak hanya itu, keesokan harinya, Edwin Wagensveld, yang mengepalai kelompok anti-Islam Jerman Pegida cabang Belanda, merobek halaman-halaman Al-Qur'an selama protes satu orang di luar parlemen.

      Gambar-gambar di media sosial juga menunjukkan dia menginjak halaman-halaman kitab suci yang robek.

      The Organisation of Islamic Coopration (OIC) atau Organisasi Kerjasama Islam mengutuk insiden tersebut dan mengatakan tindakan keji, seperti pembakaran buku-buku agama, tidak dapat dibenarkan dengan kedok kebebasan berekspresi.

      OIC mengadakan pertemuan duta besar di PBB pada hari Kamis untuk mengutuk tindakan tersebut. “Tindakan keji ini adalah satu lagi manifestasi dari tingkat Islamofobia, rasis, dan tren diskriminatif yang mengkhawatirkan yang menyebar di seluruh dunia,” kata pernyataan bersama yang dirilis setelah pertemuan tersebut. Itu diketuai oleh Pakistan.

      Pernyataan OIC mengingatkan masyarakat internasional bahwa tindakan keji tersebut merupakan pelanggaran hukum hak asasi manusia internasional.

      Duta Besar Pakistan untuk PBB, Munir Akram, mengatakan dalam pertemuan tersebut bahwa “Islamofobia terus menjadi kenyataan, yang harus kita hadapi bersama.”

      Ini memang bukan kali pertama Paludan memicu kontroversi. Sejak terjun ke politik, Paludan memang dikenal sebagai ekstremis sayap kanan garis keras yang kerap bersuara mengenai sentimen anti-Islam dan imigran. Dia adalah pemimpin partai politik sayap kanan Denmark Stram Kurs (yang artinya "Jalan Lurus” atau “Garis Keras”) yang dia dirikan pada tahun 2017.

      Berita Terkait :
  • Trending

    Obrolan

Jangan Lewatkan